Komunikasi
merupakan aktivitas dasar manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling
berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, di
tempat pekerjaan, di pasar, dalam masyarakat atau dimana saja manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak
akan terlibat dalam komunikasi.Pentingnya suatu komunikasi bagi manusia
tidaklah dapat dipungkiri begitupula halnya bagi suatu negara. Dimana
didalamnya menurut Goetano Mosca terdapat sekelompok orang yang memerintah dan
orang yang diperintah. Orang yang memerintah yang biasanya disebut elite
politik sedangkan orang yang diperintah adalah masyarakat atau rakyat (kelompok
massa). Kelompok elite politik junmlahnya agak sedikit, mengambil peran utama
dalam hampir semua fungsi politik nasional, memonopoli kekuatan dan menikmati
keuntungan daripadanya; sedangkan kelompok massa, dibina dan diawasi oleh yang
pertama baik secara legal atau tidak, dengan atau tanpa pedoman hukum dan kekerasan. Dengan adanya komunikasi yang baik
akan suatu pemerintahan dapat berjalan dengan baik, lancar serta berhasil
begitu pula sebaliknya, kurangnya komunikasi akan mengahambat jalannya
pemerintahan dan akan menghambat pembangunan yang pada akhirnya akan
menimbulkan kerugian yang sangat besar yang akan di alami oleh rakyat atau
masyarakat negara tersebut.
Brent D. Ruben dalam buku Komunikasi memberikan definisi komunikasi yaitu suatu
aktivitas yang mempunyai beberapa tahap
yang terpisah satu sama lain tetapi berhubungan. Sedangkan DR. Arni Muhammad
dalam buku yang sama memberikan pengertian komunikasi yaitu pertukaran pesan
verbal maupun non verbal antara si pengirim pesan dengan si penerima pesan
untuk mengubah tingkah laku.
ELITE POLITIK DALAM SISTEM
KOMUNIKASI POLITIK INDONESIA
Sistem komunikasi politik kita
secara vertikal terdiri dari elite politik, media massa dan masyarakat; masing-masing
merupakan subsistem yang berfungsi selaku sumber (komunikator), saluran dan
khalayak penerima (komunikan). Dan suatu
proses yang dikenal sebagai umpan balik (feed back). Di negara - negara
totaliter dengan pola komunikasi satu kepada semua, proses komunikasi politik
berlangsung dimana elite politik sebagai sumber
pesan-pesan politik (komuniukator politik) yang berada pada posisi aktif, sementara
media massa sebagai saluran bagi setiap pesan politik dan masyarakat sebagai
khalayak penerima pesan yang berada pada posisi pasif.
Pesan-pesan/informasi politik secara berkesinambungan datang dari elite politik
dari media massa dan masyarakat, secara mutlak harus mentaati dan menerimanya.
Dengan demikian proses komunikasi berlangsung dari
atas ke bawah. Proses umpan balik juga ada yakni dalam bentuk persetujuan
(semu) masyarakat terhadap apa yang datang dari atas. Sedangkan pesan maupun informasi
politik hampir sepenuhnya bersifat agitasi dan propaganda. Jadi para elite
politik itu bertindak
sebagai agitator dan propagandis,
sedangkan media massa berfungsi sebagai sarana propaganda politik. Sebagai
komunikator, elite politik mengerahkan pengaruhnya ke dua arah yaitu menentukan
alokasi ganjaran (imbalan dan hukuman, atau reward
and punishment) dan mengubah atau mencegah perubahan struktur sosial/politik
yang ada. Dalam kewenangannya yang pertama, elite politik berkomunikasi sebagai
wakil darikelompok penguasa (diktator plorelatar). Sedangkan pada negara
demokratis dengan pola komunikasi satu kepada satu, proses komunikasi
berlangsung secara vertikal dan horisontal. Di Indonesia, pola komunikasi satu
kepada yang satu lainnya hanya berlangsung pada situasi-situasi tertentu dan
relatif masih berlangsung antara elite politik dengan anggota
masyarakat, elite dengan elite yang lain secara individual maupun kelompok, serta
antar masyarakat dengan masyarakat lainnya secara individual maupun kelompok.
Secara umum dapat
dikatakan bahawa pembicaraan politik
masih didominasi elite politik. Selain itu media massa tidak bisa memanfaatkan
sedikit kebebasan yang dimilikinya tetap untuk menangkap dan meyebarkan
pembicaraan politik tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar